Surah al-Kahfi terletak dalam surah ke delapan belas dalam urutan
surah-surah dalam mushaf al-Quran. Menurut riwayat, surah itu kaya akan
hikmah dan rahasia akhir zaman. Dalam sebuah matan hadis diwurudkan,
seorang muslim yang mengamalkan surah al-Kahfi di malam Jum’at,
terhindar dari fitnah dajjal.
Ada lima poin utama yang termaktub dalam surah al-Kahfi: Tauhid, defensif, Sabar, Kehendak Allah dan Ilmu Allah.
Poin pertama tauhid, diulang-ulang dengan ayat-ayat yang berisi pesan,
Allah tidak punya anak. Dia Maha Meliputi segala sesuatu, Maha Kuasa
atas segala sesuatu, segala sesuatu selain Dia berhajat kepada Nya,
sebaliknya Dia tidak membutuhkan kepada segala sesuatu apapun itu.
Poin kedua defensif, dijelaskan melalui kisah Ashabul Kahfi, sejumlah
pemuda yang dapat dihitung dengan jari harus menghindar dari kezaliman
penguasa yang musyrik yang mempunyai banyak tentara, tak mungkin
melawan.
Poin ketiga sabar, disampaikan melalui kisah Nabi Musa AS
dan Nabi Khidr AS yang mengulang-ulang kata-kata kepada Nabi Musa AS,
“Engkau tidak akan dapat bersabar bersamaku,” sebab yang dilakukan Nabi
Khidr AS di depan mata Nabi Musa AS adalah tindakan-tindakan yang
memancing emosional, sehingga Nabi Musa tidak sabar untuk mendapatkan
jawaban terhadap perilaku Nabi Khidr AS yang dianggap menyimpang dari
sisi agama maupun kemanusiaan. Ia terpancing menuntut jawaban. Semakin
keadaan itu memantik kebencian atau kemarahan, semakin pula besar
kesabaran yang dibutuhkan untuk menunggu jawaban dari Allah. Setiap
tanda ada peristiwanya, setiap peristiwa ada jawabnya.
Poin keempat
adalah kehendak Allah, diterangkan dalam kisah Dzulkarnain yang selalu
setuju akan kehendak Allah ke mana pun takdir melemparkannya. Semua ia
hadapi tanpa bertanya kepada Allah. Sebaliknya, bangsa Ya’juj Ma’juj
setiap hari berencana dengan penuh rasa percaya diri dan berencana
dengan kekuatan yang mereka miliki, tetapi kehendak Allah jua yang
terjadi. Sampai menjelang hari kiamat mereka menyerahkan usaha mereka
untuk keluar dari dinding besi bercampur tembaga itu kepada Allah dengan
berkata, “Insya Allah, besok pasti kita bisa menjebol tembok ini!” Saat
itulah Allah mengizinkan rencana mereka.
Poin kelima ilmu Allah
berupa pemberian, anugerah yang datang dari sisi Dia. Tak dapat dicari,
tak bisa diminta. Ilmu yang tak mungkin terlukiskan dengan kata-kata.
Jangankan pohon-pohon dan lautan dijadikan pena dan tinta. Alam semesta
ini saja pun hanya secuil dari manifestasi ilmu Nya itu. Wallahu ‘Alam. (Facebook: 08 Mei 2014)