Monday, April 18, 2016

Seruan Ruh Para Mufti



Wahai laksamana,
birukanlah laut Melayu,
kumpulkanlah ruh para nakhoda terbaik zaman berzaman,
pinjamlah jasad pemuda-pemuda pendo'a dari gunung-gunung,
kayuhlah bahtera dan berbicaralah kepada angin,
gelarlah ratib tarian suci,
sanggalah langit yang runtuh,
kutiplah bintang-bintang yang bertubrukan,
tanamilah tanah yang telah ditinggalkan,
hiburlah anak-anak dan wanita yang menjerit,
kuburlah para peneriak yang tersungkur,
bendunglah darah-darah yang menganak sungai,
lanjutkanlah sejarah yang berhenti,
runtuhlah sudah kemegahan dan pesta
dimakan api revolusi yang berakhir sepi,
berilah nama negeri tak bernama,
tiba-tiba..
laksamana terhenyak dalam kalimah:
la hawla wala quwwata illa billah

(Abah Jufri, Facebook, 27 Mei 2014)

Salik Aku dalam Nistaku



Salik aku dalam nistaku,
entah siapa yang rasuki jiwa,
entah pun sampai di mana,
biarlah,
kutunggu sampai semua berbenturan,
lalu hancur berkecai-kecai,
hilang,
sebentar lagi langit akan menyempit,
menghimpit,
tak seorang pun lagi yang berani bermimpi...

(Facebook: Abah Jufri, 20 Mei 2014)

Kuning Hijau Warnanya



Saat berhenti melihat sebab,
tatapan menghunus lurus ke depan,
tak mau berpaling ke kiri ke kanan,
biar hati terus bertempur,
biar nurani tertutup lumpur,
yakin Maha Guru sudi membimbing.

Ketika langit telah memerah,
ditombak si hina musafir kelana,
warnanya kuning berjubah api,
jejaknya hijau serilah alam,
biarlah aku menjerit dalam diam

(Facebook: Abah Jufri, 22 Mei 2014)

Tentang Furqan (Pembeda)




Anakku. Perbedaan antara mukjizat dan sihir di masa lalu, perbedaan antara kemuliaan taqwa dengan kehinaan thagut di masa kini, perbedaan antara jual beli dan riba, perbedaan antara agamis dan paganis, tak ubahnya seperti api dan asap, seperti cahaya dan kilat, atau lebih tipis dari itu, seperti itulah berjalan di bawah bayang-bayang peradaban marchivisme. Bila engkau menentang dengan sikap radikal engkau seperti 'memberaki gajah', bila engkau menurut dengan sikap menjilat engkau seperti 'menyuapi babi air'. karena itu, dengarkan ayahmu, agar engkau menjadi seperti para pemuda gua yang ditidurkan 309 tahun yang ajaib itu: Lemah lembutlah, jangan katakan siapa dirimu kepada seseorang pun. Selawat dan salam ke atas Nabi. (Facebook: Abah Jufri, 14 April 2014).

Di Antara Kandungan Surah al Kahfi (Gua)

Surah al-Kahfi terletak dalam surah ke delapan belas dalam urutan surah-surah dalam mushaf al-Quran. Menurut riwayat, surah itu kaya akan hikmah dan rahasia akhir zaman. Dalam sebuah matan hadis diwurudkan, seorang muslim yang mengamalkan surah al-Kahfi di malam Jum’at, terhindar dari fitnah dajjal.
Ada lima poin utama yang termaktub dalam surah al-Kahfi: Tauhid, defensif, Sabar, Kehendak Allah dan Ilmu Allah.

Poin pertama tauhid, diulang-ulang dengan ayat-ayat yang berisi pesan, Allah tidak punya anak. Dia Maha Meliputi segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, segala sesuatu selain Dia berhajat kepada Nya, sebaliknya Dia tidak membutuhkan kepada segala sesuatu apapun itu.

Poin kedua defensif, dijelaskan melalui kisah Ashabul Kahfi, sejumlah pemuda yang dapat dihitung dengan jari harus menghindar dari kezaliman penguasa yang musyrik yang mempunyai banyak tentara, tak mungkin melawan.

Poin ketiga sabar, disampaikan melalui kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidr AS yang mengulang-ulang kata-kata kepada Nabi Musa AS, “Engkau tidak akan dapat bersabar bersamaku,” sebab yang dilakukan Nabi Khidr AS di depan mata Nabi Musa AS adalah tindakan-tindakan yang memancing emosional, sehingga Nabi Musa tidak sabar untuk mendapatkan jawaban terhadap perilaku Nabi Khidr AS yang dianggap menyimpang dari sisi agama maupun kemanusiaan. Ia terpancing menuntut jawaban. Semakin keadaan itu memantik kebencian atau kemarahan, semakin pula besar kesabaran yang dibutuhkan untuk menunggu jawaban dari Allah. Setiap tanda ada peristiwanya, setiap peristiwa ada jawabnya.
Poin keempat adalah kehendak Allah, diterangkan dalam kisah Dzulkarnain yang selalu setuju akan kehendak Allah ke mana pun takdir melemparkannya. Semua ia hadapi tanpa bertanya kepada Allah. Sebaliknya, bangsa Ya’juj Ma’juj setiap hari berencana dengan penuh rasa percaya diri dan berencana dengan kekuatan yang mereka miliki, tetapi kehendak Allah jua yang terjadi. Sampai menjelang hari kiamat mereka menyerahkan usaha mereka untuk keluar dari dinding besi bercampur tembaga itu kepada Allah dengan berkata, “Insya Allah, besok pasti kita bisa menjebol tembok ini!” Saat itulah Allah mengizinkan rencana mereka.

Poin kelima ilmu Allah berupa pemberian, anugerah yang datang dari sisi Dia. Tak dapat dicari, tak bisa diminta. Ilmu yang tak mungkin terlukiskan dengan kata-kata. Jangankan pohon-pohon dan lautan dijadikan pena dan tinta. Alam semesta ini saja pun hanya secuil dari manifestasi ilmu Nya itu. Wallahu ‘Alam. (Facebook: 08 Mei 2014)

Pemberi Manfaat dan Pemberi Bahaya

Janganlah orang-orang yang hendak mengenal Zat Yang Maha Tersembunyi itu mengira mereka akan melalui jalan yang mulus, datar dan terang bersuluh cahaya saat memulai langkah pertama mereka menuju Tauhid. Tidak! sama sekali tidak! Sebenarnya mereka bahkan melalui jalan yang sempit, mendaki lagi sukar, terjal lagi berselimut kegelapan. Mereka pertama kali akan mengenal Nya dari manfaat dan bahaya yang mereka temui di sepanjang jalan, karena Dialah Ad-Dhorr dan An-Nafi'. Setelah itu, setiap jiwa akan menggelepar, terkapar, terkulai lunglai di hadapan Nya. Wallahu 'a'lam (Facebook: Abah Jufri, 04 Maret 2014)

Melangkah di Atas Air



Tulis kisah sertakan hati,
sebagai syair si anak bahari

Mohon izin Gusti Mulia,
mohon syafaat Nabi Mustafa

Bukan rencana bukan kuasa,
tetapi takdir memanggil hamba

Setuju pada kehendak Ilahi,
bersangka baik apa pun nan jadi

Nabi khidr kiasan subur,
menjaga laut sepanjar umur

Tempa waliyullah di tiap zaman,
menjelma anak peminta makan.

(Facebook: Abah Jufri, 27 Februari 2014)